Isnin, 27 Jun 2011

demokrasi dewasa.



pada ketika itu
cilawagi masih berkemban
turun di jalanan menuntut sebuah daulat
semuanya halal


tanpa ragu dan terlepas nyawa
mati sebagai perwira adalah  mulia
kalimah lantang terentang pada setiap inci yang bernama nasionalis
dirgahayu dipinta
berdekad mereka berkuasa
sisa-sisa keladak waris turun temurun
dari bapa turun pada anaknya
dari datuk membelit cicitnya
pada semua saudara mara
negara ini mutlak hak mereka




dan pada waktu ini
demokrasi ditunjukkan pada susun paling teliti
ditonton pada dunia, ini cara dewasa
suara-suara bebas dikumpul dalam satu arca
dan mereka
kekal berkuasa
tahniah!
-ajari anak muda cara demokrasi paling dewasa











Jumaat, 17 Jun 2011

sekeping angan

pada setiap yang pernah aku fikirkan
aku selitkan sekeping angan-angan
yang bercambah dari fantasi tidak terungkap
pada detik yang aku sentiasa sendirian
aku masih tidak menangkap satu pun mimpi terjelma

Isnin, 30 Mei 2011

rasa.




perlip bagiku  rumit
aku kikis jiwa
buang rasa kasih
aku timbus dengan pasir-pasir kesumat
biar tertanam jiwa dimiliki dan memiliki


namun
kudapati rasa ini tetap ada
aku menolak namun hadir memaksa menerjah raga
dalam terungkap aku lihat bahagia rasa berdua
jika cakerawala juga berkasih dengan bumi
kenapa tidak aku mencuba
dan iya
kau wanita itu...


..yang membuatkan aku menjadi tidak menentu
yang membuatkan aku mengerti erti malu
yang membuatkan aku ingin menyentuh hatimu
jejak-jejak mimpi makin jelas ukiran wajahmu
dalam sehari terubah
aku sudah mengalah


ya tuhan,
runtuhkan tembok ini
patahkan sumpah-sumpah aku yang lalu
kerana dia melumpuhkan setiap patah janjiku
jadikan dia separuh hatiku
meski hanya suku  ku ketahui kisahnya.





.

Isnin, 23 Mei 2011

sekadar hasrat.




tersedar dari mimpiku
yang mulanya  inginkan sebuah rasa bahagia
walau aku cuma
berharap agar bisikkanku didengar sang bayu
sampaikan terus pada wajah ayumu
meski hakiki aku patut mengerti
tuhan tidak menulis perjalanan kita


kerisauanku
kekalutanku
kenakalanku
apa aku beri
tulus dari hati
aku tak pernah bersua dua kali lihat gayamu
aku tidak dalami siapa sebenarnya kamu
dan aku tidak endah,
pada siapa milik kamu
sedangkan aku mencoret tanpa ragu


maaf
ku tak ingin terjadi tapi sudah terjadi 
menahan setiap semangat cuba menafi bila sudah mengerti
aku mungkin lari dan pantas pergi
ku takut hati mengoncang inginkan yang pasti
walhal sudah jelas aku patut malu sendiri
malam ini,
biarlah tamat dengan cara begini.

Ahad, 22 Mei 2011

terpulang apa katamu.




sepertinya
sudah banyak ku tulis hal yang membebankan
aku lihat isi ragam manusia
aku tulis apa yang aku rasa
aku tak banyak bicara pada ketenangan
kerana kepedihan sering berdampingan




lelah,
kadangkala tangan ini tidak pantas mengikut gerak minda
saat terik mentari membakar
fitrah manusia kerja demi sebuah hidup
aku memilih lelap dan berkawan dengan selimut
disaat kejora pula hangat menari dikeliling purnama
aku memilih memikir pada waktu sunyi
tanpa ragu dan rasa aneh
aku memilih langit teman bicaraku


sulit
memikirkan aku tidak biasa dari norma manusia
jauh memencil dari siapa-siapa yang mengerti apa maksud bersahabat
mereka tidak pernah meminggir
aku yang lari menjauh menutup hinaku
yang pada satu ketentuannya
aku perlukan keliling buat ketawa


pada segelintir dari kisahku
aku seakan tiada hati buat diberi pada sesiapa yang kasih
aku lebih rela biarkan mereka kecewa
jangan diharap pada aku yang biarkan ia  berdengung
pada apa aku boleh beri bahagia
menunggu itu perbuatan sia-sia
biarkan aku luput dari sisa kecil hidup kalian
tamatkan segera kisah perjalananku
kalian patut tidak peduli
aku disini tetap tiada apa-apa
melontar kata cara begini
aku lebih selesa.

Khamis, 19 Mei 2011

hakikat,dalam aku ada engkau.




menyelak catatan yang tertulis
sebelum-sebelum ini tidak ku seru engkau
bila jalan makin gelap
di atas langit terbentang luas
aku mula mencari hakikat
mencari segala rahsia
walau engkau sendiri itu rahsia


dalam mimpi sebelum ini
syaitan aku lihat seperti mursyid
aku buang lima dari genggam jaga
aku hanya berdasar nama
seperti pemeluk agama yang lainnya.


engkau tidak lari
cuma aku yang bawa diri
cinta aku dari kesombongan
aku lihat cinta pada satu pandangan
aku taburi mawar pada bidadari yang bukan iringi aku kelangit
padahal engkau,aku cuma lagukan kisah merintih
masih tetap sumbang aku persembahkan.


ilmu aku setitik dakwat di kertas putih
separuh dari usiaku dicatit berada dalam api 
tidak aku rela berjumpa malek
cukup sekadar terlihat dari mimpi


sisa ini untuk cinta
kuserah apa yang ada pada kekasih
walau sering duri menusuk  hati
takut aku mungkir lagi
dalam aku sentiasa engkau
dari jasad hingga roh aku milik engkau
beri aku sedetik nafas lagi
mencari engkau
tiada lagi rahsia
engkau yang hakikat.



Rabu, 18 Mei 2011

puisi buat manis.




kepada manis,
juga serta sekeliling yang damai bila merenungmu
adakah kita ditakdir untuk berkongsi rasa yang sama
antara garis-garis dirambutmu 
walau berjurai jatuh menutup keayuanmu
masih aku tatap walau misteri masih tak terungkap


kepada manis,
aku masih lihat senyuman walau sekali terlintas
seperti malam-malam yang berlalu
seperti semalam engkau masih didepanku
jika ini mainan anganku
pergilah jauh manis


wahai manis,
adakah luaran yang kupandang sama manis pada jiwamu
mengapa engkau harus ada
ketika mana aku tidak tersedia untuk berdua
pada ketika aku terikat janji-janji setia
pergi manis
jangan hadir dalam bayangku.


cukuplah terlihat indah wajahmu
cukuplah seksa bayangkan pesona tubuhmu
cukuplah pedihkan dari tutur sopanmu
cukup manis.
aku harap kau milik lelaki budiman